30 Des 2013

Negeri di Awan

Di bayang wajahmu 
Kutemukan kasih dan hidup 
Yang lama lelah aku cari 
Dimasa lalu

Kau datang padaku 
Kau tawarkan hati nan lugu
 Selalu mencoba mengerti 
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan 
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa 
Aku menuju kesana
Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih 
Yang terungkapkan dengan pasti 
Dalam suka dan sedih
     Dalam imaji saya waktu kecil, selalu terbayang dengan apa yang ada di balik gumpalan asap-asap putih dilangit yang seperti kapas, terbentang luas di langit biru. Penggalan lagu tahun 90-an yang dipopulerkan Katon Bagaskara di atas turut berperan dalam mengembangkan imajinasi saya. Membayangkan bahwa diatas sana ada juga kehidupan, istana megah, tempat para malaikat dan bahkan makhluk-makhluk mitologi seperti naga dan pegasus... kalau membayangkan sekarang pasti akan senyum-senyum sendiri. Tetapi itulah dunia anak-anak yang penuh warna dan imajinasi yang membuat dunia mereka tidak membosankan sebagaimana kehidupan orang dewasa yang penuh dengan rutinitas... hehehe

    Gambar ini diambil di atas pesawat pada saat perjalanan dari Jakarta menuju Padang. Pada saat penugasan pertama saya di pulau Sumatra.







27 Des 2013

Pacu Jawi, Balapan Sapi ala Minangkabau



    Pacu jawi di Payakumbuh, Sumatera barat
    Selama ini, memacu sapi identik dengan budaya Madura, Jawa Timur. Ternyata, tradisi serupa juga sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumatra Barat. Tradisi pacu sapi di Sumbar sudah ada sejak 1930-an. Acara yang dikenal dengan sebutan pacu jawi ini biasanya diadakan di areal persawahan dan setelah musim panen, dimaksudkan agar suasana panen lebih semarak dan menyenangkan. Jawi atau sapi yang dilombakan bukanlah sapi khusus pacuan. Tapi, sapi biasa yang dipelihara sebagai ternak.
 

    Sebenarnya pada saat pertama kali melihat acara ini beberapa tahun yang lalu, saya kurang tertarik. Berdasarkan pengalaman saya saat itu, waktu yang diperlukan untuk persiapan cukup lama karena selain kita harus bersabar menunggu jalannya sapi-sapi yang bak peragawati meleok-leok di atas pematang sawah, acaranya juga kurang dikemas dengan baik sehingga cukup lama saya disuguhi pemandangan sawah kosong berlumpur.


                                  Pacu jawi yang disponsori salah satu caleg *bukan jurkam*



                                                                                 Pesertanya...



    Tetapi setelah melihat beberapa foto pacu jawi yang sering memenangi lomba fotografi, akhirnya membuat rasa penasaran saya muncul kembali untuk dapat mengabadikan acara ini. Akhirnya kesempatan itu datang juga, suatu sore saat masih dikantor tiba-tiba istri telepon kalau di dekat rumah (kontrakan) ada perlombaan pacu jawi. Dengan tidak sabar, ketika jam menunjukkan pukul 17.00WIB berarti saatnya pulang kantor, tanpa menunggu lebih lama lagi saya langsung tancap gas ke rumah untuk menjemput kamera, anak, dan istri. Sampai di lokasi, penonton sudah berjubel di area persawahan dan suara talempong terdengar mulai bersahut-sahutan, ditambah dengan Saluang yang membuat suasana terasa begitu Minangkabau sekali.
 

    Pacu Jawi ini identik dengan Kabupaten Tanah Datar, karena disana event pacu jawi ini sudah dikemas cukup apik dan rutin diselenggarakan. Ada beberapa perbedaan antara Pacu Jawi di Sumbar dan Karapan Sapi di Madura. Perbedaan yang cukup mencolok  adalah lahan yang digunakan, kalau Karapan Sapi menggunakan tanah lapang kering sebagai arena, sedangkan Pacu Jawi menggunakan area sawah yang  basah. Sehingga kalau difoto tampak lebih dramatis dan banyak mendapatkan momen yang bagus.  Untuk pacu jawi di wilayah payakumbuh/lima puluh kota ini, sang joki tidak menunggangi hewan berkaki empat itu dengan sebuah alat seperti karapan sapi di Madura, melainkan turut berlari seraya mengendalikan. Namun, tak jarang para joki tak kuat menandingi kecepatan sapi berlari. Hasilnya, kecelakaan seperti jatuh hingga terinjak sapi menjadi pemandangan yang lumrah dalam lomba ini.


    Jika sudah puas menikmati Pacu Jawi, di sekitar arena menjadi pasar rakyat. Di sini banyak dijual kuliner khas Minang yang wajib dicicipi.


 Atmosfer penonton di garis Start



 



 Di sini kita bisa melihat sapi berlari kencang, joki mengendalikan sapinya dengan tangguh, cipratan lumpur berterbangan, sorak-sorai penonton, serta sesekali alunan musik minang mengalun untuk memeriahkan suasana,

 Menjelang Garis Finish

 Para Joki yang Terjatuh

    Puas rasanya setelah melalui perjuangan untuk mendapatkan moment luar biasa ini melalui kamera merekam dari berbagai posisi, gerakan, ekspresi, dan guratan dari sang joki dan sapinya saat meluncur cepat di lapangan berlumpur. Semua ini adalah atraksi tersembunyi diantara pemandangan tropis yang rimbun dibawah langit biru Sumatera Barat. Luar Biasa...!!

23 Des 2013

Menengok Istano Basa Pagaruyung, Pasca Terbakar Tahun 2007

Istano Basa Pagaruyung

    Akhirnya setelah tiga tahun lebih "main-main" di bumi Minang, baru kemaren berkesempatan untuk memasuki istana besar dan megah ini. Sebenarnya sudah beberapa kali berkunjung ke tempat ini, tetapi karena masih dalam tahap renovasi pasca kebakaran yang terjadi di tahun 2007 maka saya hanya bisa mengamati kemegahan istana ini dari luar. Selalu penasaran dengan apa yang ada di dalam istana besar ini, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan semua ruangan -ah, lupakan-

    Dan pada tanggal 31 Oktober 2013 lalu, Presiden SBY meresmikan Istana pagaruyung ini dan bersamaan dengan itu pula Istana Pagaruyung kembali dibuka untuk umum. Lokasi Istana Pagaruyung ini berada di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dan untuk tiba di lokasi, kita bisa menggunakan berbagai macam jenis kendaraan, baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Tiket masuk cukup terjangkau, dibedakan untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Untuk wisatawan domestik Dewasa Rp7.000,- sedangkan anak-anak Rp5.000,- dan wisatawan mancanegara dewasa Rp12.000,- anak-anak Rp5.000,-
Setelah cuaca terik membahana langsung berubah mendung disko

     Halaman Istana ini cukup luas, didalamnya kita bisa menunggang kuda berkeliling dan ada badut yang siap menemani untuk berfoto. Bagi yang tidak membawa kamera tetapi ingin mengabadikan momen di Istana Pagaruyung, jangan khawatir karena banyak tukang jepret yang siap "membekukan" pose narsis pengunjung. Bila kita pengen yang lebih spesial, maka bisa masuk ke dalam Istana dan menyewa baju adat Minangkabau untuk berfoto didalam istana. O ya, sebelum masuk istana jangan lupa untuk melepas alas kaki untuk menjaga kebersihan.

Beberapa badut "penghuni" Pagaruyung

  Yang ingin menjadi Puti Minang, bisa menyewa baju adat Minangkabau

Tabuah Larangan, digunakan sebagai alat komunikasi

    Ada beberapa bangunan lain yang berada di sekitar istana, diantaranya adalah Tabuah Larangan yang berjumlah dua buah. Tabuah pertama bernama Gaga Di Bumi yang dibunyikan apabila terdapat peristiwa yang besar seperti bencana alam, kebakaran, tanah longsor dsb. Tabuah kedua bernama Mambang Diawan yang dibunyikan untuk memanggil Basa Nan Ampek Balai ( Dewan Empat Menteri) yaitu Tuan Titah di Sungai Tarab, Tuan Kadi di Padang Ganting, Tuan Indomo di Saruaso, Tuan Mankudun di Sumanik, Tuan gadang di Batipuh serta Tigo Selo (Raja Alam, Raja Adat, Raja Ibadat) untuk mengadakan rapat.

    Bagian Dalam Istano Basa Pagaruyung

 Singgasana (Pelaminan Bundo Kanduang)

    Singgasana ini terletak di lantai satu sejajar dengan pintu masuk. Disini terpajang photo Raja Pagaruyung terakhir yaitu Sultan Alam Bagagarsyah. Singasana ini dilingkari dengan tirai yang terjuntai disisi kanan, kiri dan depan. Disinilan Bundo Kanduang (ibu suri) duduk sambil melihat – lihat siapa yang datang atau yang belum datang apabila ada rapat dan mengatur segala sesuatu diatas rumah.

Bilik (Kamar)

    Bilik – bilik ini dihuni oleh putri – putri raja yang sudah menikah (berkeluarga). Bilik pertama atau yang paling kanan dihuni oleh putri raja yang sudah menikah dan seterusnya dihuni oleh adik – adik yang sudah menikah pula. Istana Basa Pagaruyung mempunyai 9 ruang; satu ruangan digunakan sebagai tempat jalan kedapur yang disebut dengan ” Selasar”. Bilik pertama kita mulai dari kanan waktu anda masuk ke rumah (Istano). Sebelah kanan tersebut juga merupakan ” Pangkal Rumah” dan bilik terakhir yang berada disebelah kiri disebut juga ”Ujung Rumah”

Motif Songket Khas Minangkabau 

    Istano Basa Pagaruyung yang megah dan sehari-hari menjadi museum ini ludes terbakar akibat sambaran petir di ujung atapnya pada 2007. Istana Kerajaan Pagaruyung yang berdiri pada abad ke-13 ini akhirnya direkonstruksi kembali selama 5 tahun dan menghabiskan biaya Rp 19,7 miliar. Pembangunan kembali Istano Basa Pagaruyung menghabiskan 800 kubik kayu surian dan meranti, 260 ton ijuk untuk atap dengan konstruksi atap baja ringan, serta sebagian dinding dengan beton yang dilapisi kayu ukiran. Bangunan berlantai tiga itu kini dibangun sama seperti bangunan yang dulu terbakar, hanya letaknya dimundurkan 40 meter ke belakang sehingga halamannya lebih luas. Akibat kebakaran tersebut sekitar 35% dokumen dan benda-benda bersejarah koleksi Istana Pagaruyung tidak bisa diselamatkan. Sedangkan 65% benda dan dokumen sejarah koleksi istana bisa diselamatkan, saat api belum menghanguskan seluruh bangunan. 









 Beberapa "sisa-sisa" koleksi Istana Pagaruyung

18 Des 2013

Tari Pasambahan, Ucapan Selamat Datang di Ranah Minang

   
 Para Penari di Belakang Panggung

    Tak bisa dipungkiri dan disangkal lagi bahwa Indonesia sangat kaya akan ragam bentuk budaya dan kesenian. Hampir tiap daerah memiliki suguhan budaya yang selalu mengundang decak kagum dan memiliki daya tarik tersendiri. Seperti yang belum lama ini saya saksikan di Ranah Minang yaitu Tari Pasambahan yang ditampilkan pada saat perayaan HUT Kota Payakumbuh yang ke-43. Gemulai gerak penari berpadu dengan irama talempong (alat musik tradisi minang) mampu membius saya dan tanpa sadar ikut bergoyang. -untung gak ada yang pingsan- 

Penabuh Talempong | ehm, cantik ...

Pemain Gandang Tambui (Alat musik pukul dari Minang)

    Tarian di Sumatera Barat ini banyak dipengaruhi oleh agama mayoritas yang dipeluk masyarakatnya yaitu agama Islam. Selain itu, tarian Sumatera Barat juga sangat kental  dipengaruhi dengan keunikan adat matrilineal dan kebiasaan merantau masyarakatnya. Demikian juga dengan Tari Pasambahan  ini yang mayoritas pemainnya adalah uni-uni yang rancak bana. Tambua ciek... (disodorin nasi padang)





Bingung milihnya | salah fokus...

    Tari Pasambahan adalah salah satu seni tari tradisonal Minangkabau yang berkembang di berbagai daerah di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Tarian ini ditampilkan dalam acara penyambutan tamu yang dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan rasa hormat kepada tamu kehormatan yang baru saja sampai. Pada kesempatan ini adalah dalam rangka menyambut Walikota Payakumbuh dalam acara peringatan HUT Kota Payakumbuh yang ke-43. Namun saat ini, tari pasambahan ditampilkan tidak hanya dalam acara penyambutan tamu, tetapi juga dalam seni pementasan dan pertunjukan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak.

    Tari pasambahan ditampilkan saat kedatangan tamu yang datang dari jauh, atau saat kedatangan pengantin pria ke rumah pengantin wanita. Tamu yang datang kemudian dipayungi dengan payung kebesaran sebagai penghormatan terhadap tetamu yang datang. Setelah tari pasambahan ditampilkan, kemudian acara dilanjutkan dengan suguhan daun sirih dalam carano kepada sang tamu. Pada saat upacara pernikahan, suguhan daun sirih diberikan kepada pengantin pria sebagai wakil dari rombongan. Daun sirih di carano tersebut juga biasanya disuguhkan kepada kedua orang tua pengantin. Poin inilah mengapa saya sebut bahwa tari ini adalah bentuk keramahan ranah minang, dimana pada saat datang kita disambut dengan sangat meriah  dan dengan suguhan daun sirih yang melambangkan penghormatan kepada tamu. Walaupun banyak juga acara penyambutan tamu di daerah lain di Indonesia -semoga suatu saat bisa nampilin disini-


Uni pembawa carano


Sebelum pertunjukan tari, biasanya dibuka dengan pentas silek (silat)


   Awas uda, ikat kepalanya lepas...

27 Nov 2013

Plesir ke Pulau Cingkuak

 Pasir putih berbalut biru air laut Pulau Cingkuak

    Pulau Cingkuak ini berada di pesisir selatan Sumatera Barat. Jaraknya sekitar 500 meter dari daratan utama Pulau Sumatera di kawasan Pantai Carocok, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan. Seorang perenang andal tak akan kesulitan menyeberangi selat tenang menuju pulau itu. Berhubung itu bukan "gue banget" maka kami memilih opsi lain yang tampak lebih "manusiawi". Cukup dengan membayar Rp10.000,-/orang maka belasan perahu bermesin yang dioperasikan sejumlah operator dengan senang hati akan mengantarkan pengunjung pulang pergi dari dermaga di Pulau Batukereta. Adapun dari daratan di Pantai Carocok menuju Pulau Batukereta, pengunjung bisa mencapainya dengan menyusuri jembatan sekitar 100 meter. Setiap perahu dioperasikan dua orang dengan kapasitas sekitar 30 pengunjung.

 Jembatan dari pantai carocok menuju pulau Batukereta

 Perahu tempel yang siap mengantar-jemput

    Pulau Cingkuak, dengan luas 4,5 Ha, berhadapan dengan Pulau Batu Kereta, terletak di kawasan Pantai Carocok Painan (77 km dari Kota Padang). Pulau ini merupakan saksi bisu terhadap peninggalan sejarah kolonial di Pesisir Selatan, yang pada masa itu merupakan pusat perekonomian dan pelabuhan pantai barat Sumatera. Selain putihnya pasir pantai dan birunya laut di pulau cingkuak kita juga bisa berwisata sejarah. Bisa kita lihat Benteng Portugis (sebenarnya adalah benteng VOC) dan Nisan tua Madame van Kempen yang bertuliskan tahun 1911. Madame Van Kempen diperkirakan meninggal sekitar 150 tahun sebelumnya. Madame Van Kempen, sesuai tulisan di nisan itu, adalah istri Thomas Van Kempen yang dituliskan sebagai Residen Poeloe Tjinko (Pulau Cingkuak).

    Nama pulau ini diambil dari nama hewan sejenis kera, Cingkuak. Yang berbulu abu-abu gelap dengan bercak-bercak hitam di wajah. Bercak hitam inilah yang menggelarinya "cingkuak" yang artinya "coreng" dalam bahasa Minang. Meski sekarang jarang terlihat --dan tidak ada sama sekali di Pulau Cingkuak-- Menurut para pedagang makanan yang berjajar di tepian Pantai Carocok, kera itu dulu meninggali pulau. Sayang, keberadaannya kini sudah tak bisa ditemukan. 


 Laut yang tenang dan syahdu

 Selain bermain pasir dan berenang, di pulau cingkuak kita juga bisa menikmati beberapa wahana air seperti "perahu pisang"

 Senja menjelang saatnya pulang ke peraduan



    
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com