7 Jul 2018

Berwisata ke Bekas Pabrik Gula Kekinian

Sebuah pabrik tua yang sudah berhenti beroperasi dan terbengkalai kurang lebih 20 tahun yang lalu telah dirombak menjadi sebuah tempat wisata bertema heritage di wilayah Karanganyar. Di Jalan Adi Sucipto, sekitar 10 menit dari Bandara Adi Soemarmo, Anda akan menemukan Pabrik Gula Colomadu yang telah direvitalisasi menjadi tempat wisata dan kawasan komersial. Namanya kini berubah menjadi “De Tjolomadoe” didirikan tahun 1861 di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV. Tahun 1928, pabrik ini mengalami perluasan area lahan tebu dan perombakan arsitektur.  Di tahun itu pula PG Colomadu mengalami kejayaan. Bangunan heritage yang dulunya tempat penggilingan tebu itu kini bersiap menjadi tempat internasional.


     Sedikitnya ada tujuh bagian di gedung utama yang dirombak dan dialihfungsikan. Misalnya Stasiun Gilingan difungsikan untuk museum. Stasiun Ketelan difungsikan untuk restoran dan tempat pameran. Kemudian Stasiun Penguapan menjadi lorong panjang yang kanan kirinya berjajar kios butik dan makanan. Stasiun Karbonasi digunakan untuk pusat oleh-oleh kerajinan. Bagian Besalen atau bengkel kini diubah menjadi kafe. Sekilas melihat, sangat berbeda sekali kondisi pabrik ini sebelum dan sesudah direnovasi.

    Hal yang cukup penting bagi saya adalah biaya masuk ke tempat ini masih di gratiskan hingga waktu yang belum ditentukan :) PT Sinergi Colomadu selaku pengelola mengatakan sengaja masih menggratiskan biaya masuk ke objek wisata yang dulunya merupakan bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu tersebut. Pengunjung dapat berfoto-foto hingga pukul 22.00 WIB karena banyak titik yang “Instagramable”. Pihak pengelola juga berupaya menarik minat anak-anak untuk berkunjung karena di dalamnya terdapat museum yang menceritakan sejarah PG Colomadu.
  


     Di sisi lain, revitalisasi PG Colomadu juga mendapatkan kritik pedas dari beberapa pihak termasuk budayawan dan seniman. Menurut mereka yang disayangkan adalah hilangnya nilai heritage yang terbangun sejak sekitar 150 tahun lalu. Nilai tersebut bukan melulu tentang pabriknya, namun juga dampak-dampak yang timbul atas berdirinya PG Colomadu. Mesin-mesin PG Colomadu telah melalui proses panjang selama 150 tahun, sehingga menciptakan fisik natural dan spesial. Dengan revitalisasi, mendadak nilai itu hilang. Selain itu, apabila hendak berwisata kesini saran saya adalah membawa bekal makanan sendiri. Karena harga makanan yang tersedia di kafetaria tergolong cukup mahal, agar sejalan dengan prinsip “wisata hemat” saya apalagi tiket masuknya masih gratis :) So, sudahkah memasukkan wisata heritage ke agenda akhir pekan?

  





6 Jul 2018

Boyolali Juga Punya Taman Kota

              Momen Lebaran menjadi saat yang paling tepat untuk melepas semua kerinduan. Kerinduan kepada keluarga, kampung halaman, tetangga, mantan. Walaupun di era modernisasi ini semakin mudah cara untuk berkomunikasi, tetapi tetap beda rasanya apabila kita bisa berpelukan, bercengkerama, atau sekedar menatap orang yang kita kasihi secara langsung daripada hanya sekedar menatap layar telepon genggam. Dan juga karena saya merasa tidak dilahirkan dari batu, maka sudah menjadi kewajiban untuk pulang menengok orang tua pada momen lebaran tahun ini.

                Sudah terbayang dibenak saya untuk menikmati kesejukan semilir angin hembusan dari dua raksasa Jawa yang berdampingan, si Merapi dan si Merbabu. Apalagi libur lebaran tahun ini lumayan panjang dan juga ditunjang dengan fasilitas jalan yang semakin bagus serta mulai banyak jalan tol baru yang dioperasikan tentu akan semakin mendukung kenyamanan para perantau untuk kembali ke kampung halaman. Di musim mudik kali ini senang rasanya banyak mendengar opini positif mengenai fasilitas yang telah dibangun pemerintah tersebut dan mereka sadar bahwa jalan tol yang telah dibangun pemerintah berasal dari uang pajak yang kita bayarkan. Janji pemerintah untuk membangun jalan tol trans jawa dan sumatera mulai menunjukkan hasilnya.

               Dalam 3 tahun terakhir ini upaya membangun ruang terbuka publik serta taman terus digencarkan di Boyolali. Taman-taman yang dibangun di wilayah Kota Boyolali maupun kecamatan lain dibangun secara tematik, membuat saya pangling dengan kota ini. Salah satu taman yang dibangun cukup dekat dengan pusat kota dan yang penting gratis :) adalah Taman Pandan Alas. Taman yang dibangun pada tahun 2016 ini kini telah ramai oleh pengunjung. Baik dari warga asli Boyolali maupun warga luar Boyolali. Karena tempatnya yang strategis, yaitu berada di sebelah selatan Lampu merah perempatan “SEIKO” yang dahulunya adalah gedung perpustakaan umum daerah, membuat taman ini begitu mencolok bagi pengendara yang melintasi maupun berhenti di jalan ini. Tak sedikit pula pengendara mampir ke tempat ini untuk sekedar melepas penat.





                Berkunjung disini tidak dikenakan tarif masuk hanya membayar parkir saja, meskipun begitu tetap wajib jaga kebersihan dan segala fasilitasnya ya. Taman ini menurut saya sangat ramah anak dan sangat cocok digunakan untuk menikmati udara sejuk kota susu di pagi hari atau sore hari. Fasilitas yang terdapat disana antara lain plaza, playground anak, outbond, kedai, dan mushola jamur.

         Selain itu Taman Pandan Alas juga menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat sampah,tempat cuci tangan,tempat wudhu,kamar mandi dan tembok bebas yang biasanya digunakan anak anak untuk mencoret coret atau menggambar sesuai keinginannya.





 Ciloknya enak

                Senang rasanya melihat kota kelahiran saya ini mulai mengeliat setelah sebelumnya pembangunan di kota ini saya nilai cukup stagnan. Semoga ini menjadikan Boyolali bukan hanya menjadi penonton bagi kemajuan daerah-daerah di sekitarnya tetapi bisa menjadi trendsetter dan kota yang nyaman bagi masyarakatnya. Boyolali The Smile of Java :)

17 Mar 2018

Re upload: Hari Oeang ke-67: Bhakti Pajak di Ngalau Indah

Nemu tulisan di blog kantor lama :)

Dalam rangka memperingati Hari Oeang ke-67 yang jatuh pada tanggal 30 Oktober 2013 yang lalu, KPP Pratama Payakumbuh mengadakan Bhakti Pajak di objek wisata Ngalau Indah. Acara ini diisi dengan senam bersama di depan gua Ngalau Indah dilanjutkan dengan pemasangan tempat sampah di sekitaran objek wisata. Diharapkan dengan tempat sampah ini akan meningkatkan kesadaran kita dalam menjaga kebersihan dan membayar pajak tentunya {karena ada stikernya... :-) }. Semoga bisa bermanfaat... :-D

text & foto: Pungky Sudrajat | Pelaksana Seksi RIKI








Sumber: kpp-pratama-payakumbuh.blogspot.co.id

Terbentur, terbentur, terbentuk!

                  Perubahan atau transformasi itu adalah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari. Ulat perlu berproses menjadi kupu-kupu, bayi menjadi dewasa nasi menjadi bubur. Dalam pekerjaan sayapun perubahan bisa dengan sangat cepat terjadi. Contohnya pagi ini, atau tepatnya tengah malam-menuju-weekend (waktu yang sangat digemari pimpinan kami untuk mengumumkan sesuatu) ada pengumuman mengenai penempatan pegawai baru yang merupakan suatu perubahan bagi adek-adek yang sebelumnya berstatus sebagai mahasiswa sekarang harus bersiap menjadi Abdi Negara. Terlebih lagi pola mutasi atau kepindahan pegawai di instansi kami skalanya adalah nasional, maka mereka akan menghadapi dunia baru, lingkungan baru, dan yang pasti kota yang baru.
asa pun
                Tapi sebenarnya bukan hal diatas yang pengen saya bahas dalam sesi curhat artikel ini. Dalam tulisan ini saya ingin sharing mengenai hobi baru saya. Hobi yang sebenarnya bukan hanya sekedar hobi, tetapi lebih ke gaya hidup atau life style. Bermula dari keprihatinan saya melihat tubuh saya yang tidak proporsional, lemak perut bergelambir sementara tubuh yang lain bisa dibilang kurus. Mungkin ini wajar dialami oleh bapak-bapak beranak dua dan tuntutan pekerjaan yang tidak mengharuskan banyak bergerak. Tapi saya belum siap untuk menghadapi itu. Maka kurang lebih 3 tahun yang lalu atau tepatnya bulan Oktober 2015, saya putuskan untuk hidup lebih sehat dan lebih sering berolahraga. Dan Alhamdulillah istri juga mengijinkan, dimana ijin ini tidak saya dapat pada saat dulu masih punya anak satu. Alhasil dulu nge-gym juga cuma bertahan 3 bulan karena ada komplain dari istri (mungkin memang benar pepatah banyak anak banyak rejeki).
               Setelah 3 tahun saya rutin berolahraga dan hidup lebih sehat, banyak manfaat yang saya rasakan. Yang pasti badan menjadi lebih fit dan bugar, tidak gampang sakit, dan badan juga terlihat lebih proporsional. Sebenarnya badan saya bertipe ectomorph atau susah gemuk, kalaupun gemuk seperti yang sudah saya uraikan diatas, penyebaran lemaknya tidak merata. Cukup lama berat badan saya mentok di angka 57 kg, sekarang Alhamdulillah saat nimbang terakhir sudah menjadi 64 kg. Latihan ke gym rutin minimal 3 kali seminggu. Tantangan paling berat yang saya rasakan adalah komitmen. Banyak teman-teman maupun orang yang saya tanya kenapa mereka berhenti nge-gym kebanyakan karena rasa malas atau temannya udah gak nge-gym lagi. Dari hal tersebut saya belajar bahwa motivasi itu jangan berasal dari luar, melainkan motivasi harus berasal dari diri sendiri. Untuk apa kita olah raga, apabila badan sehat siapa yang akan menikmati, seperti itulah saya memotivasi diri pada saat rasa malas mulai datang. Yang pasti saya ingin menikmati waktu lebih lama dengan orang-orang yang saya sayangi dengan mencoba hidup lebih sehat, men sana in corporesano!

 2015-2018


















luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com