Tampilkan postingan dengan label acara kantor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label acara kantor. Tampilkan semua postingan

3 Apr 2024

GPS Goes to Kebumen


    Kali ini menghadiri undangan dari KPP Pratama Kebumen yang mengadakan pertandingan voli persahabatan antar Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan kanwil Jawa Tengah II. KPP Pratama Boyolali yang pada saat itu sedang hype olah raga volinya tentu dengan suka cita menanggapinya. Yang lebih menggembirakan ternyata Bapak Kepala Kantor mengusulkan bagaimana kalau ke Kebumennya naik motor saja? Tentu saja tidak hanya kaum pecinta voli yang bersorak, para penggiat piknik touring yang tergabung dalam 527 GPS pun ikut bersukacita.

    Kami berangkat dari kantor melalui jalur tengah, yaitu melewati jalur bukit menoreh melalui Magelang dan Purworejo. Perjalanan yang dilalui selama 3 jam lebih tersebut terasa melelahkan namun juga sekaligus menyenangkan. Rombongan dibagi ke dalam 2 group, group yang pertama adalah para rider yang mengendarai motor kencang sehingga bisa lebih menikmati adrenalin dan tidak harus menunggu group 2. Sedangkan group 2 di dominasi oleh para lady bikers, yup 527 GPS dikenal diantara kelompok touring yang lain karena keberadaan Lady Bikers nya yang cukup banyak. Walaupun terbagi dalam 2 group namun tetap kita tentukan beberapa titik kumpul, selain untuk beristirahat juga untuk mengecek kelengkapan dan kondisi peserta.


    Sesampainya di Kebumen kami menuju ke hotel Trio Azana Style, untuk membersihkan diri dan beristirahat karena pertandingan voli akan dilaksanakan di hari berikutnya. Setelah acara voli selesai, kami di jamu oleh tuan rumah yaitu KPP Pratama Kebumen dengan sajian khas Kebumen, yaitu nasi penggel. Penampakan nasi ini unik, karena ternyata penamaan nasi ini berawal dari kebiasaan mengambil nasi yang dibentuk bulat-bulat seukuran bola pingpong. Nasi penggel disajikan bersama sayur dan lauk. Sayur ini merupakan sayur lodeh santan berbumbu gurih sederhana dicampur dengan serat nangka muda yang oleh orang Jawa disebut dengan gori. Adapun lauk makanan ini adalah jeroan sapi, seperti; babat, iso, kikil, tetelan, jantung, ginjal, dan paru, Kemudian bisa ditambah dengan aneka gorengan, seperti tempe mendoan dan semacamnya. Selesai makan dan ramah tamah, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Untuk perjalanan pulang ini kami mengambil jalur yang berbeda, yaitu jalur selatan melalui Jalan Daendels. Berbeda dengan rute berangkat yang didominasi perbukitan dan berkelok-kelok, jalur selatan ini jalurnya cenderung lurus dan rata. Namun tetap harus waspada dengan kondisi jalan yang beberapa masih berlubang.


    Kebumen sendiri bukan kota yang asing bagi saya, termasuk kota yang special karena istri saya pernah melewatkan masa kecil di kota ini. Tahun 2009 pertama kali saya singgah di kota ini, dalam rangka mengantarkan istri (masih calon waktu itu) tes CPNS. Qadarullah rejekinya masih belum di Kebumen. Banyak hal unik pas pertama ke Kebumen waktu itu, yang pasti dari segi Bahasa yang agak berbeda dengan Bahasa jawa Solo-Jogja sehingga saya sering mengulang2 pas jajan cilok di alun2 karena takut salah mengartikan. Makanan khas yang saya ingat yaitu sate ambal, kalau sate pada umumnya identik dengan bumbu kacang, Kebumen punya Sate Ambal yang bumbunya benar-benar unik. Bagaimana tidak, alih-alih menggunakan kacang, saus pada Sate Ambal justru menggunakan bahan utama berupa tempe rebus. Karena menggunakan tempe, cita rasa dari makanan ini menjadi sangat unik. Masih banyak yang belum dicoba sih, karena bagi saya salah satu pengingat suatu daerah adalah makanan khasnya :)





27 Okt 2014

Project Kantor #1

  
   Yuhuu... lama banget yah blog ini gak update... #nyapatembok #berasafamous #inibukaninstagram. Banyak banget sebenarnya alasan (alibi) yang sudah saya siapkan untuk menjawab kenapa blog ini cukup lama fakum. Tapi sudahlah, saya yakin tidak begitu penting juga alasan-alasan tersebut saya paparkan disini.
   
    Skip.. skip.. Beberapa waktu lalu saya dapet orderan dari kantor... Hmm, bukan orderan yang “wow” dari segi material, karena sifatnya amal alias free... hehehe. Tapi saya sangat semangat dan tertarik untuk melakukan project ini karena secara tidak langsung saya dipercaya dan  ada yang mengapresiasi karya saya (halah!) Diminta bantuan buat bikin iklan mengenai NPWP untuk diterbitin di media cetak (skala lokal sih). Tapi kalo boleh jujur, saya jauh lebih menikmati dan enjoy pada saat mengerjakan project ini dari pada pekerjaan reguler. Mungkin memang beda kalo pekerjaan yang disertai dengan passion dan yang hanya sekedar untuk memenuhi tuntutan perut :)

 Karena kedua talent ini baru bertemu, maka butuh adaptasi untuk mencairkan suasana





Ketiga talent dadakan :)

Dan seperti inilah tampilan yang mejeng di koran 

29 Jun 2014

Jangan Sampai Ketinggal di Berhala


Pernah dengar Pulau Berhala....?

    Banyak orang yang sudah mendengar namun salah mengerti . Sebab sejauh ini ada dua pulau yang diberi nama Pulau Berhala di Indonesia. Salah satunya di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Salah satu Pulau terluar NKRI ini memiliki luas 14,75 Ha. Sedangkan Pulau Berhala lainnya terletak di antara Provinsi Jambi Dan Kepulauan Riau dan luasnya Hanya 2,5 Ha. Pulau Berhala yang kedua ini yang menjadi tujuan saya kali ini.

    Sebenarnya ini acara kantor sih, tapi saya sangat excited begitu dikasih penawaran apakah acaranya akan berlangsung di Kota jambi atau di Pulau Berhala ini. Tentu saja saya memilih ke Pulau Berhala, walau dengan tambahan biaya pribadi. Bayangan saya tentang sebuah pulau, pantai dan alamnya yang indah jauh lebih menarik untuk di eksplore daripada suasana khas perkotaan di Kota Jambi. Ada beberapa alternatif tempat keberangkatan menuju Pulau berhala ini, antara lain dari kota Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan waktu tempuh 0,5 jam, dari desa Sungai Itik kecamatan Sadu sekitar 1 jam, dan 2-3 jam dari Suak Kandis -  Nipah Panjang dengan menggunakan Spead Boat. Kami sendiri berangkat dari pelabuhan LASDAP di Kuala Tungkal dengan waktu kurang lebih 2,5 jam.

Suasana Pelabuhan Kuala Tungkal

Burung elang yang banyak beterbangan di kawasan pelabuhan

    Terdapat dua jenis speedboat untuk menyeberang, yaitu speedboat jenis terbuka beratap terpal dan speedboat jenis tertutup yang dilengkapi dengan toilet, televisi dan sebagainya. Keduanya sanggup menampung lebih dari 30 orang sekali jalan. Walaupun didalam kapal sudah disediakan kursi yang cukup nyaman, tetapi saya memilih untuk naik ke dek atas kapal menikmati hembusan angin dan beberapa burung yang terbang diatas laut. Selama perjalanan kita disuguhi pemandangan hutan dan Sungai Batang Hari yang merupakan sungai terpanjang dipulau Sumatera. Jangan heran dengan warna air sungai Batanghari yang coklat, sungai Batanghari memang terkenal dengan kandungan lumpur yang tinggi.

    Lebih jauh lagi menyusuri Sungai Batang Hari menuju ke laut atau lebih tepatnya ke Selat Berhala terdapat sebuah pulau kecil yang sudah tampak di kejauhan dengan pemandangannya yang indah. Pulau Berhala ini adalah wisata Pantai yang bernuansa Pulau dan dikelilingi oleh tiga pulau kecil dengan pantainya yang yang landai serta air laut yang biru dan jernih.

Suasana di atas dek kapal

Pulau Berhala nampak didepan mata

  Pulau Berhala memiliki pantai berpasir putih yang belum tercemar dan dihiasi dengan berbagai bentuk batu karang. Pulau Berhala dikelilingi oleh beberapa pulau kecil yang tidak berpenghuni dengan pantainya yang yang landai serta air laut yang biru dan jernih, diantaranya ada Pulau Telur yang dijadikan tempat penyu bertelur pada musimnya dan pulau mercusuar.  Di Pulau mercusuar ada sebuah mercusuar berdiri kokoh sebagai panduan bagi kapal yang melayari selat Berhala karena pulau Berhala dikelilingi oleh sekelompok pulau-pulau kecil. Pulau ini juga memiliki hamparan bebatuan besar seperti Belitung, membuat kami tidak sabar untuk segera mengitarinya. 

    Di pulau ini terdapat beberapa rumah yang bisa disewa. Rumah yang kami dapatkan cukup luas dengan 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, dan 1 kamar mandi. Namun jangan berharap banyak karena rumah ini kosong tanpa perabotan sama sekali dan kondisinya agak kurang terurus. Hanya tersedia sebuah kasur busa ukuran single untuk kami beristirahat. Saran saya, bawa kasur lipat dan perlengkapan tidur lainnya jika ingin mengunjungi Pulau Berhala. Atau bisa mendirikan tenda di pantai, tetapi harus waspada apabila ada air pasang. Untuk makanan, ada beberapa warung milik penduduk yang menyediakan makanan berat maupun makanan ringan dengan harga yang sedikit lebih mahal tentunya daripada di daratan, tetapi masih wajar kok.

Salah satu dermaga di pulau Berhala

  Pulau Mercusuar



Penginapan di pulau



    Nama pulau ini diambil dari nama raja Jambi pada jaman dahulu, Datuk Paduka Berhala, yang makamnya ada di pulau ini, tepatnya di belakang rumah yang kami huni. Untuk menuju ke sana, pengunjung menaiki anak tangga sepanjang 20 meter.  Selain makam, terdapat juga dapur kuno peninggalan jepang dan meriam tua peninggalan penjajahan kolonial belanda. Selesai mendaki bukit yang cukup terjal untuk menengok meriam, kami turun dan menuju ke penangkaran penyu di Desa Riau. Penangkaran ini masih terhitung baru, jadi masih dalam skala kecil. 

 Perjalanan menuju makam Datuk Berhala

 Dapur Peninggalan Jepang

Penangkaran penyu

    Kami pun menelusuri pantai yang landai dan jernih cocok sekali untuk berenang dan berendam. Salah satu spot favorit saya ada di bagian barat pulau ini, yaitu di Pantai Lekuk Medan dimana kita bisa menikmati matahari terbenam disini. Tidak jauh dari pantai ini juga terdapat bukit batu yang merupakan tempat sempurna untuk memotret sunset bagi para pecinta fotografi. Selanjutnya biarlah foto yang bicara... :)


Gerbang yang menyambut kita di dermaga

Narsis dulu sesampai di pantai... :)

Batu-batu besar bergelimangan di pantai


Pantai-pantai kece di pulau Berhala

Pulau Telur dari kejauhan

Langit cerah minim polusi cahaya 

Sunset di pantai Lekuk Medan




 Bermain di pantai


Jangan Sampe Ketinggal di Berhala :)

23 Sep 2013

Mencumbu Alam di Lembah Echo Harau

    Akhirnyaa... setelah hampir 3 tahun saya berada di kota ini berkesempatan juga untuk mengunjungi Echo Homestay & Convention yang berlokasi di kompleks wisata lembah Harau. Penginapan ini berbentuk cottage yang terdiri dari rumah-rumah yang berbeda model setiap unitnya. Jadi setiap pengunjung yang bermalam di sini akan memiliki pegalaman yang berbeda beda. Sebenarnya jarak rumah kontrakan saya dan lembah Harau tidak bisa dibilang jauh, tetapi untuk masuk ke Echo Homestay ini saya baru berkesempatan kemarin. Berawal dari acara kantor yang mengambil tempat disana, kami menyewa sebuah rumah kecil semacam bungalow yang terdiri dari 2 kamar dan masing-masing kamar terdiri dari double bed (spring bed), televisi, kamar mandi dan extra bed yang terletak di lantai 2 mezzanine yang ada di setiap bungalow yang dipergunakan untuk menginap panitia dan menyimpan barang-barang.

 Bungalow yang kami tempati, cukup nyaman dan bersih tempatnya. Dan pastinya tidak perlu AC karena udaranya cukup sejuk (dingin) dan mungkin karena dinginnya udara ini hampir tidak ada nyamuk padahal lokasi homestay ini di tengah lembah yang banyak pepohonannya.

Salah satu sudut interior kamar

    Interiornya serba kayu, cozy dan perabotannya etnik minimalis. Yang menarik nih... kamar mandinya atapnya terbuka, jadi pas lagi mandi kita bisa menikmati keindahan tebing-tebing Harau yang terkenal itu (Kamar mandinya tetap pake kloset duduk dan shower). Dijamin ngga ada yang ngintip (kecuali monyet...hehe) karena letak echo homestay ini paling tinggi dan cukup jauh dari pemukiman sekitarnya. Bungalow terbesar terdiri dari 3 kamar dengan fasilitas lebih mewah. 

 Bungalow Terbesar


 
Beberapa tipe bungalow lain yang berukuran lebih kecil

    Yang menarik dari Echo Homestay ini adalah adanya suatu titik yang tidak jauh dari homestay jika Kita berteriak, maka teriakan kita akan memantul di dinding tebing dan menghasilkan gema atau echo. Mungkin dari sinilah nama lembah Echo diberikan. Silakan Anda bebas berteriak berulang-ulang di titik ini. Tetapi seperti tempat wisata kebanyakan di Indonesia, lembah echo inipun tak luput dari tangan-tangan jahil pelaku vandalism

 
Dari titik inilah kita bisa teriak-teriak (dan diteriakin ulang)


 Narsis sejenak sebelum acara

 Sesi acara indoor di aula yang punya konsep terbuka dan sekali lagi no AC

 Sesi acara outdoor di tempat terbuka yang banyak tersedia di halaman homestay

 Ada juga fasilitas flying fox, walaupun tampaknya kurang tinggi tetapi cukup untuk memacu adrenalin

 Taman yang ada di depan Bungalow yang kami tempati

Dengan latar belakang dinding kokoh lembah Harau


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com