Tahun ini
adalah tahun ketiga 527 GPS berdiri, sebuah komunitas motor informal dari
sebuah instansi pemerintahan dimana saya mengabdi. Memang tidak ada susunan
pengurus maupun AD/ART semua hanya berdasarkan kesamaan hobi dan kekeluargaan.
O iya GPS yang disematkan di nama kelompok ini adalah singkatan dari Gas Pol Sewidak yang dalam bahasa jawa
berarti gas pol enam puluh. Kenapa enam
puluh (KM)? Karena peserta dari acara piknik touring ini banyak para lady biker dan tidak jarang juga ada
yang mengajak putra-putri nya.


Pada touring
kali ini kami mengambil tujuan adalah ke Dataran Tinggi Dieng yang terletak di
Wonosobo (atau Banjarnegara?) dengan jarak di peta kurang lebih 119 km, tapi
sepertinya lebih karena kami mengambil rute agak memutar lewat Selo dan mampir
di Magelang untuk sarapan meeting
point yang kedua. Perjalanan kali ini mungkin bisa dibilang salah satu
wishlist saya, dimana pada kesempatan pertama pernah diajak teman-teman magang
untuk touring ke Dieng namun saya belum bisa ikut karena kebetulan mereka
mengajak di H-2 minggu pernikahan saya (sengaja mungkin) dan begitu baiknya
mereka memberikan kado di hari pernikahan saya oleh-oleh khas wonosobo yaitu
Purwaceng. Kesempatan yang kedua saya melewati Wonosobo saat perjalanan ke
Purwokerto, pada saat itu saya berkata dalam hati bahwa suatu saat harus
motoran ke sini.

Dataran
tinggi Dieng adalah dataran tinggi yang tepat di tengah Pulau Jawa. Terletak di
antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Wisata di sini lengkap,
dari museum, candi, kuliner, kawah belerang, dan Puncak Sikunir. Karena
keterbatasan waktu,maka tidak semua obyek wisata tersebut dapat kami kunjungi.
Yang pertama adalah kawah Sikidang, yang
merupakan lapangan perkawahan di Dataran Tinggi Dieng yang berada paling dekat
dengan kawasan percandian Dieng, mudah dicapai, dan dinikmati karena terletak
di tanah datar, sehingga juga menjadi kawah yang paling dikunjungi wisatawan.Sekarang dengan adanya jembatan
kayu, kami tinggal mengikutinya saja untuk sampai di kawah utama. Selain
memudahkan perjalanan wisatawan, jembatan kayu itu juga instagramable. Banyak
wisatawan berfoto di jembatan kayu dengan latar belakang kawah utama yang
mengeluarkan asap. Saat berjalan menuju pintu keluar, kami harus melalui
area suvenir atau oleh-oleh. Banyak kios pengunjung yang menjual oleh-oleh khas
Dieng, seperti carica sampai sabun belerang. Namun, ternyata jalan yang harus kami lalui untuk menuju pintu
keluar cukup panjang. Bahkan, ada lebih dari 10 jalur “labirin” di area suvenir
yang harus dilalui untuk sampai di pintu keluar.

Destinasi yang kedua adalah Batu Pandang Ratapan Angin, nama
yang cukup membuat kita mengernyitkan dahi. Nama ini mengingatkan saya akan
suatu tempat di Payakumbuh, Sumatera Barat yaitu Jembatan Ratapan Ibu tentu
dengan latar belakang dan alasan penamaan yang berbeda. Berada di atas Dieng
Plateau Theater,tempat ini adalah spot terbaik untuk menikmati telaga warna dan
telaga pengilon. Walaupun untuk sampai ke lokasi memerlukan sedikit perjuangan
menaiki anak tangga namun rasanya akan terobati setelah kita sampai ke atas dan
disajikan dengan pemandangan yang begitu indah.
Sekitar pukul 16.30 WIB kami bertolak dari Dieng untuk
kembali ke Boyolali, menyempatkan mampir di warung Djoglo Wonosobo untuk
mengisi perut dan solat Maghrib, akhirnya sekitar jam 21.00WIB saya sampai di
Boyolali. Lelah namun mengenyangkan menyenangkan.
0 komentar:
Posting Komentar